Ketika Murid Memerkarakan Kyai

Ketika Murid Memerkarakan Kiai

Pimpinan pesantren di jateng dilaporkan menyodomi belasan muridnya. Awalnya, takut mengungkap. Pejabat daerah pun bungkam. Karena sang kiai mengklaim sebagai guru spiritual Presiden SBY.; Klaim Kiai Dekat Pejabat

Berbekal ongkos hasil saweran para guru, rombongan mantan siswa, wali murid, dan bekas guru SMP,  Jawa Tengah, berangkat ke Jakarta, Ahad sore pekan lalu.  Mereka tiba di Jakarta Senin pagi.

Mereka berurutan mengadu ke Bareskrim Mabes Polri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Departemen Pendidikan Nasional, dan berkirim surat ke Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang mereka perkarakan: seorang kiai yang amat disegani, pendiri dan pengasuh Pesantren SMP. Sang kiai itu adalah KH Ahmad khoirun marzuqi

Penegak hukum dan pejabat pendidikan daerah yang dilapori juga tidak menunjukkan iktikad untuk mengatasi. LBH Advokasi Pati kali pertama mendapat pengaduan pada dua bulan silam, Oktober 2008, dari seorang siswa SMP. “Ia mengaku hampir dicabuli,” kata Maskuri, Direktur LBH Advokasi. “Baru warming up, dicium, dipeluk, tapi dia lolos. Sempat juga dipukuli,” ia menambahkan.

Beberapa hari kemudian, datang lagi tiga orang. Berikutnya, terkumpul 10 pengadu. Bukan hanya siswa, orangtua siswa, mantan guru, mantan istri Nasihin, ajudannya, anak angkatnya, dan sopirnya juga berdatangan. “Saya heran, kenapa hal seperti ini sampai berlarut-larut,” papar Maskuri. “Setelah saya telusuri dari berbagai sumber, termasuk dari Gatra, ternyata ada ketakutan luar biasa. Pelaku dikesankan sangat powerful,” ujar Maskuri.

Saking kuatnya karisma Nasihin, sampai ada cerita, seorang siswa yang mengadu kepada orangtuanya justru dimarahi dan dipukuli sang orangtua. “Kamu ini jangan seperti itu sama wali,” kata salah satu orangtua, ditirukan Maskuri. Di mata sebagian orangtua siswa, Nasihin dianggap sebagai wali, sebutan untuk sosok yang mencapai posisi spiritual tinggi.

Selain siswa dicabuli, beberapa guru dipecat. Para guru yang dipecat juga ketakutan. Tidak semata karena karisma Nasihin, juga karena teror. Beberapa guru, setelah dipecat, tidak berani tidur di rumah. Mereka bergiliran tidur di beberapa musala. “Tekanan psikis, Mas,” kata Manto, sebut saja begitu, mantan guru.

Bila mereka macam-macam, ada saja pengikut Nasihin yang meneror. “Diculik saja,” demikian ungkapan yang kerap mereka dengar. Para guru yang mengadu ke Jakarta pun cenderung menyembunyikan identitas. Ketika diwawancarai televisi, mereka menutup wajah. Tempat tinggal di Jakarta juga mereka rahasiakan.

“Di Pati, kami punya keluarga. Ada ibu, istri, dan anak. Siapa yang menjaga mereka kalau terjadi apa-apa,” kata seorang guru kepada Sukmono Fajar Turido dari Gatra. Mereka memilih lapor ke LBH karena laporan ke instansi lain, seperti dinas pendidikan, kecamatan, dan polres, tidak ditanggapi. Berbagai instansi seolah menutupi kasus ini.

Laporan ke Dinas Pendidikan Pati sudah dilakukan tiga kali. Tapi kepala dinas selalu cari alasan untuk menghindar. Pada laporan kedua, pelapor menemui staf dinas yang pernah menyaksikan langsung pemukulan siswa. Tapi staf tersebut cuci tangan. Laporan ketiga dilakukan enam siswa. Kepala dinas masih menghindar.

diterima Kepala Seksi SMK, Endang. “Bu Endang mendengar testimoni anak-anak itu sampai nangis-nangis,” tutur seorang mantan guru. Gaya Nasihin memecat guru dengan ungkapan kasar: “Aku wis ra butuh kowe. Kowe wis rasah mulang ne kene. Lunga sangka kene! (Saya sudah tak butuh kamu, kamu tak usah mengajar lagi di sini, pergi dari sini!).”

Jono, bukan nama sebenarnya, guru yang dipecat, mengaku diberhentikan karena dituduh berzina dengan salah satu anak didiknya. Karena mengajar di luar ruangan, Jono sering mendengar suara “beg-beg-beg”, siswa dipukuli di dalam kelas. Beberapa guru mengundurkan diri karena setia kawan.

Semula, delapan pengajar dipecat secara bersamaan. Lalu 14 pengajar mengundurkan diri karena solider. “Mereka dikeluarkan karena mengetahui tindakan pelaku, menentang, tidak kuat, terus mengundurkan diri,” papar Maskuri. Maskuri yakin, setelah ada sekelompok orang yang berani melapor ke Jakarta, akan banyak lain yang beerani mengungkap. “Ini fenomena gunung es,” ujar Maskuri. Ia optimistis, kasus ini akan terungkap.

***

KPAI, yang mengendus kasus ini sejak September lalu, telah melakukan investigasi. Diawali laporan e-mail panjang lebar. Sebulan kemudian, Oktober, KPAI mengirim tiga utusan ke Pati. “Dilaporkan, kondisinya sangat menyedihkan,” kata Masnah Sari, Ketua KPAI. “Saya sendiri belum percaya sepenuhnya.” Karena Nasihin selalu menyangkal.

Ia malah lebih banyak membanggakan pesantrennya yang kerap dikunjungi tokoh nasional, seperti Presiden SBY dan mantan Presiden Gus Dur. November lalu, Masnah dan dua komisioner KPAI turun langsung ke Pati. Setelah menyaksikan langsung situasi lapangan, Masnah amat prihatin melihat kondisi .

“Ada anak yang matanya kosong, seperti tidak ada kehidupan,” kata Masnah. Ia juga mendapati indikasi, Nasihin sangat otoriter. Bila murid mengadu ke guru, si guru yang mulai tahu kelakuan Nasihin itu akan dicari-cari kesalahannya. “Ada guru yang difitnah melakukan zina dengan salah satu murid, kemudian dikeluarkan,” katanya.

Masnah pernah menyarankan membuat pengaduan tertulis ke polres. Tapi laporan itu didiamkan. Disarankan lagi langsung ke polda. Pekan ini, mereka bahkan ke Mabes Polri. KPAI mendesak Kapolri memastikan penegakan hukum, karena polisi tingkat bawah cenderung segan bertindak.

Dalam kunjungan itu, Masnah sempat berbincang langsung dengan istri Nasihin. “Istrinya bilang, sembilan tahun menikah, tidak pernah disentuh,” ujar Masnah. “Bayangkan, sembilan tahun masih perawan.”

Masnah punya analisis mengapa Nasihin berperilaku demikian. “Mungkin orang ini psikopat,” kata Masnah kepada Ahmad Alfajri dari Gatra. “nya bukan hanya dikashih uang, ada juga yang digantung dengan kepala di bawah, kemudian dipukuli dengan sapu sampai sapunya patah,” tutur Masnah.

Kata pengadu, kasus itu berlangsung sejak 2003. “Pelakunya cuma satu orang, tapi nya banyak, sekitar 38 orang. Kalau betul terbukti, pelaku harus dihukum seberat-beratnya karena yang jadi anak sekolah,” kata Masnah. KPAI tidak akan berhenti menyelidiki kasus ini sampai pelakunya dihukum.

Persepsi masyarakat akar rumput Pati tentang sosok Kiai Nasihin tergambar pada pengakuan Ahmad Saifuddin, 32 tahun. Guru sekolah dasar di tetangga kecamatan Nasihin ini punya banyak teman guru yang mengajar di maruqi. Ketika Nasihin menikah, sekitar tahun 1999, Saifuddin menjadi sinoman, pelayan tamu. Istri Saifuddin satu pesantren dengan Nasihin.

“Kalau ada berita Kiai Nasihin menyodomi, aku ora kaget, Mas,” ujar Saifuddin. Kiai yang dikenal suka mendalami ilmu kebatinan itu juga dikenal luas tidak menyukai lawan jenis. “Itu sudah jadi rahasia umum,” katanya. “Hampir semua warga Pati tahu, Kiai Nasihin punya kelainan.”

Seperti catatan KPAI, kata Saifuddin, istri Nasihin masih muda dan cantik, tapi tidak pernah digauli sebagaimana suami-istri normal. “Istrinya minta cerai. Walaupun semua tercukupi, kalau hubungan biologis nggak diperhatikan, ya, minta cerai,” tuturnya. Berkembang rumor, Nasihin memelihara jin yang melarangnya menyentuh perempuan.

Nama Nasihin mulai melambung pada 2003. Banyak tokoh nasional bertandang. Misalnya SBY, Jusuf Kalla, Amien Rais, Hamzah Haz, Gus Dur, dan Akbar Tandjung. Pada Pemilu 2004, ketika Saifuddin menjadi anggota panitia pengawas pemilu, atribut Partai Demokrat banyak bertebaran di pesantren Nasihin. “Nasihin bukan dikenal sebagai kiai masyarakat, melainkan kiai pejabat yang butuh kedudukan,” ujar Saifuddin.

Rapat mingguan pimpinan MUI, Selasa pekan lalu, juga membahas tema ini. MUI telah menerima laporan tertulis dari LBH Advokasi. “Kami melakukan klarifikasi dulu, tabayyun.Sebelum klarifikasi, kami tidak mengambil sikap apa-apa,” ujar Amidhan, Ketua MUI. Ia berharap, MUI Pati atau MUI Jawa Tengah bisa memberikan klarifikasi secepatnya.

“Kalau itu benar, kami turut prihatin,” kata mantan anggota Komnas HAM itu. MUI semestinya bisa cepat bersikap, karena Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudh, berdomisili di Pati. Pasti tidak sulit mengenali sosok Nasihin dan menyelidiki benar-salahnya laporan itu.

***

Pada saat Gatra hendak mengonfirmasi Nasihin, Rabu lalu, kiai muda yang tampilannya terkesan lebih tua itu, dengan langkah perlahan, sedang menuruni tangga masjid. Ia baru mengisi ceramah pengajian rutin mingguan, Rabu siang. Nasihin buru-buru masuk rumah. “Pak Kiai mempercayakan kepada kami untuk memberi tanggapan,” kata Yonk Sumarsono. “Saya ini tangan kanan Pak Kiai,” Wakil Ketua Komite SMP itu menambahkan.

Pengajian rutin itu biasanya dihadiri ratusan warga dari pelbagai daerah, antara lain Demak, Kudus, Jepara, Rembang, dan Semarang. Namun pengajian Rabu pekan lalu tampak lebih sepi dari biasanya. ”Masyarakat khawatir setelah pemberitaan pencabulan di televisi,” kata seorang ibu pemilik warung di depan jalan.

Meski begitu, Yonk menyanggah anggapan bahwa sepinya jamaah itu akibat isu pencabulan. Tapi karena masyarakat sekitar sedang sibuk bertani. “Kalau pas mau tanam, ya, tidak berangkat ngaji,” katanya. Ia mengetahui blow-up kasus ini dari running text di televisi, Senin malam 22 Desember. Ia melapor kepada kiainya. “Itu fitnah sangat keji,” ujar Nasihin, ditirukan Yonk. Nasihin mensinyalir, ada kepentingan tertentu di balik penyebaran berita itu.

Kalau mau, kata Yonk setengah mengancam, Nasihin bisa saja menghabisi orang-orang itu. Namun, karena mereka pernah menjadi guru dan murid SMK, Nasihin tak tega membalas. “Kalau saya, pasti orang-orang yang pernah menyakiti saya libas. Tapi Pak Kiai punya pandangan lain,” tutur Yonk.

Versi Yonk, tudingan itu bermula dari pemecatan dua guru SMP, Agustus 2008. Mereka dipecat karena tidak disiplin. “Pak Kiai sangat disiplin. Semenit saja terlambat, siswa tidak diperkenankan masuk kelas,” kata Yonk.

Pemecatan itu dianggap sebagai intervensi yayasan. Setelah itu, delapan guru lain, termasuk Kepala SMP, keluar. Selama tiga hari, proses belajar-mengajar jadi kacau. “Jadi, siapa yang salah? Mereka sudah digaji tinggi, kok tidak tertib aturan,” ujar Yonk. Gerakan para mantan guru itu sudah diperkirakan Nasihin. “Mereka ditunggangi pihak ketiga yang punya kepentingan menjelang pemilu,” kata Yonk. Karena Nasihin dicitrakan dekat dengan SBY.

Betulkah testimoni puluhan itu sekadar menuver politik? Tidakkah justru Nasihin yang berlindung di balik isu gerakan politik anti-presiden untuk membungkus aibnya? Kini bola di tangan Mabes Polri untuk mengungkapnya.

Asrori S. Karni, dan Syamsul Hidayat (Semarang)

Klaim Kiai Dekat Pejabat

Dari penelusuran Gatra, KH maruqi dikenal sebagai sosok yang disegani para pejabat. Mulai tingkat kecamatan hingga istana kepresidenan. Saking diseganinya, beberapa kalangan menyapanya Mbah Nasihin, meski umurnya belum genap 40 tahun. Sebutan “mbah” itu setingkat lebih hormat ketimbang sekadar kiai.

Pada saat ini, di antara kiai terkemuka yang disebut “mbah” adalah KH Sahal Mahfudh, Rais Am PBNU dan Ketua Umum MUI, yang juga berdomisili di Pati. Itulah salah satu sebab, meski sinyalemen perilaku minor Nasihin sudah jadi rahasia umum warga sekitar, tidak banyak yang berani mengungkapnya. Ketika kasus ini meledak di media nasional, sebagian masyarakat terdekat tidak kaget.

Kedekatan Nasihin dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah tersiar pada Pemilu 2004. Nasihin mengklaim SBY sebagai murid spiritualnya. “Saya memang dekat dengan Pak Bambang. Dia murid saya,” kata Nasihin kepada Gatra

Pertemuan SBY dengan Nasihin ditandai dengan ritual unik. Kisah itu terdokumentasi dalam buku Ziarah Nurani SBY (2005) karya Munawar Fuad, mantan staf khusus keagamaan tim sukses SBY-JK. Buku yang diluncurkan pada Kongres I Partai Demokrat di Bali, Mei 2005, itu merekam kunjungan politik SBY ke sejumlah kiai ketika kampanye.

Pada bab “SBY dan Kiai Nasihin” dipaparkan kesaksian Fuad ketika mengantar SBY ke Pesantren maruqi. “Ada kejadian menarik dalam kunjungan itu,” tulis Fuad. Setiba di pesantren, SBY diajak masuk ruangan khusus oleh Kiai Nasihin, hanya berduaan. Usai temu empat mata itu, SBY diajak menunaikan salat lohor di masjid.

Setelah salat, para kiai itu diminta berdoa bergiliran untuk kemenangan SBY. Fuad terperanjat ketika giliran Nasihin berdoa. Sebelum Nasihin berdoa, SBY diminta berdiri di depan Nasihin yang juga berdiri. Tiba-tiba jidat SBY dibenturkan tiga kali ke jidat Nasihin. “Keras sekali,” tulis Fuad. “Kejadian itu membuat kaget banyak orang, termasuk SBY.”

Interaksi pertama SBY dengan Nasihin berawal dari rencana Muktamar Jam’iyah Ahli Thariqoh Mu’tabaroh Indonesia (JATMI) di pesantren Nasihin, 3 September 2003. Ketua JATMI, Maktub Effendy, menghubungi Kurdi Mustofa, staf pribadi SBY ketika menjadi Menko Polkam, untuk audiensi mengundang SBY.

Pada saat audiensi, Maktub memperkenalkan Nasihin, Ketua Penasihat (Mustasyar) JATMI, kepada SBY. Menurut Kurdi, SBY datang karena Muktamar JATMI, bukan karena Nasihin. Kalau muktamar di tempat lain, SBY juga akan datang. Menurut Kurdi, yang kini staf khusus presiden bidang komunikasi sosial, di mata SBY, semua ulama sama-sama terhormat dan spesial. Tidak ada yang lebih dari yang lain.

“Kalau Kiai Nasihin merasa punya hubungan khusus, ya, Kiai Nasihin sendiri yang suka ngomong gitu,” kata Kurdi, yang alumnus IAIN Semarang. “Tidak ada yang spesial, apalagi mengklaim guru spiritual, dari mana ujung pangkalnya? Kalau kiai yang bener, malah nggakpernah ngomong gitu,” Kurdi menambahkan. Setahu Kurdi, guru spiritual SBY hanya dua: ayah dan ibunya.

Agar pengaduan kasus Nasihin itu tidak simpang siur, Kurdi berharap, aparat hukum segera menyelidiki. “Kalau terbukti benar, tentu sangat memprihatinkan. Dunia kiai menjadi ternoda. Kasihan para kiai yang betul-betul ikhlas dan berkhidmah untuk umat,” ujarnya.

Ini pelajaran bagi umat agar tidak gampang terkecoh oleh klaim tokoh. Sekaligus peringatan bagi tokoh agama agar tidak tergoda menyalahgunakan kepercayaan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *